Iklan

🔴 Breaking News
📺 Koran Rakyat•Suara Informasi Rakyat • Berita Terkini • Nasional • Hukum • Pemerintahan • Daerahl• iklan dan liputan Hubungi Redaksi WA 081279352944 •

Onani Intelektual di Tengah Problematika yang Tak Kunjung Terselesaikan di Kota Metro

Koran Rakyat
Kamis, 18 Juni 2026
Last Updated 2026-06-18T09:59:49Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini



Oleh: Yudha Saputra ~ Praktisi Pers 

Di tengah berbagai persoalan yang masih membelit Kota Metro, mulai dari pengelolaan sampah yang belum optimal, persoalan infrastruktur lingkungan, pelayanan publik yang masih menyisakan keluhan, hingga tantangan peningkatan kesejahteraan masyarakat, ruang publik justru kerap dipenuhi oleh perdebatan-perdebatan yang lebih banyak menghasilkan gema daripada solusi.

Fenomena ini dapat disebut sebagai onani intelektual—sebuah kondisi ketika gagasan, kritik, dan diskusi hanya berputar dalam lingkaran teori, tanpa keberanian untuk menghadirkan langkah nyata.
 
Argumentasi dipertontonkan, data dipamerkan, seminar dan diskusi digelar berulang kali, namun persoalan yang dibahas tetap berdiri di tempat yang sama.

Dalam konteks Kota Metro, masyarakat tidak lagi membutuhkan tumpukan narasi yang indah atau analisis yang berakhir pada kesimpulan normatif. 

Yang dibutuhkan adalah keberanian mengambil keputusan, ketegasan menjalankan kebijakan, serta konsistensi mengawal pelaksanaannya. 

Sebab, sebuah kota tidak dibangun oleh banyaknya wacana, melainkan oleh tindakan yang mampu mengubah keadaan.

Kritik tentu penting dalam sistem demokrasi. Akademisi, aktivis, media, dan kelompok masyarakat sipil memiliki peran strategis sebagai pengawas jalannya pemerintahan. 

Namun kritik kehilangan makna ketika hanya menjadi konsumsi sesama kelompok intelektual tanpa mampu diterjemahkan menjadi rekomendasi yang dapat dilaksanakan.

Lebih ironis lagi ketika energi publik habis untuk membahas siapa yang salah, sementara perhatian terhadap bagaimana menyelesaikan masalah justru semakin kecil. 

Akibatnya, perdebatan menjadi tujuan, bukan alat. Retorika menjadi panggung, bukan sarana perubahan.

Persoalan sampah, misalnya, tidak akan selesai hanya dengan forum diskusi dan saling menyalahkan. 

Diperlukan keberanian membangun sistem yang terintegrasi, pengawasan yang ketat, edukasi masyarakat yang berkelanjutan, serta kebijakan yang konsisten. Demikian pula persoalan lainnya. 

Tidak ada masalah yang selesai karena banyak dibicarakan; masalah hanya selesai ketika ada tindakan yang dijalankan secara serius.

Karena itu, sudah saatnya seluruh elemen di Kota Metro keluar dari jebakan onani intelektual. Kota ini membutuhkan lebih banyak pelaku daripada pengamat, lebih banyak solusi daripada opini, dan lebih banyak kerja nyata daripada sekadar narasi.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah gagasan bukanlah seberapa sering ia dibahas, melainkan seberapa besar dampaknya bagi masyarakat. Sebab warga tidak hidup dari wacana. 

Warga hidup dari kebijakan yang bekerja dan persoalan yang benar-benar terselesaikan.
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Breaking News

Breaking News

Advetorial & Iklan